Notice: Error when decoding a theme.json schema for user data. Syntax error in /home/code-kobo/public_html/wp-includes/class-wp-theme-json-resolver.php on line 314

Notice: Error when decoding a theme.json schema for user data. Syntax error in /home/code-kobo/public_html/wp-includes/class-wp-theme-json-resolver.php on line 314

021-3970 9999 info@vibicloud.com

Mengenal Red Hat Openshift: Apa itu, Fitur dan Arsitekturnya

redhat-openshift

Table of Contents

Pada Artikel kali ini kita akan membahas terkait salah satu produk yang dibuat oleh Red Hat yang berfokus dengan container, yaitu OpenShift. Pada pembahasan ini, kita akan mengenal produk OpenShift tersebut seperti apa, fitur-fitur yang ditawarkan apa saja, serta arsitektur yang ada pada Red Hat OpenShift tersebut bagaimana.

Apa itu Red Hat OpenShift?

Openshift adalah penyedia platform berbasis kontainer dan berbasis Docker, pertama kali di-release pada tanggal 4 Mei 2011, yang juga dibuat oleh perusahaan yang bergerak di bidang software berasal dari Amerika, yaitu Red Hat, Inc.

OpenShift ini dibuat untuk para customer yang melakukan develop serta menjalankan aplikasi berbasis container agar dapat melakukan penggunaan tersebut diterapkan di infrastrukstur manapun, baik itu di cloud, on-premise, ataupun edge. Sehingga hal ini salah satunya juga dapat membatu para customer untuk membuat Hybrid Cloud ataupun Hybrid Infrastructure.

Oh iya, kalau kamu belum paham mengenai container itu seperti apa, sudah kita bahas di artikel sebelumnya yakni artikel terkait Container Docker yang bisa kamu temukan di halaman berikut ini: Apa itu Docker dan Container, Bagaimana Cara Kerjanya?

Kita balik lagi ke OpenShift. Dengan adanya OpenShift ini, aplikasi yang menggunakan container tersebut dapat di-expand dengan mudah, dari hanya beberapa mesin, bisa menjadi sampai ribuan mesin, yang mana hal tersebut juga dapat melayani jutaan dari clientnya.

Karena OpenShift ini juga menggunakan Kubernetes sebagai arsitektur awalnya, maka mungkin kita bahas juga sekilas terkait dengan Kubernetes ini.

Kubernetes merupakan salah satu container engine yang berbasis open source, yang digunakan untuk deployment secara otomatis, scaling, dan juga management dari aplikasi yang sudah berbasis container.

Jadi untuk kubernetes dalam OpenShift ini digunakan sebagai standar defacto untuk mengatur container-container yang dijalankan di atas OpenShift tersebut. Dan juga secara konsep umum atau simpelnya dari Kubernetes seperti ini:

1. Menjalankan 1 atau lebih worker node(s) untuk menjalankan container workloads

2. Melakukan management dari sisi deployment pada workloads tersebut, yang dapat dilakukan dari dari 1 atau lebih control plane node(s)

3. Melakukan pembungkusan atau penggabungan container-container yang akan di deploy dalam satuan unit yang dinamakan pod. Jadi di dalam pod tersebut bisa terdapat 1 atau lebih container-container yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu aplikasi.

4. Melakukan pembuatan jenis asset yang spesial. Contohnya seperti, ketika suatu services yang direpresentasikan dengan suatu pod, dan akan ada sebuah policy yang digunakan untuk menentukan bagaimana pod tersebut diakses.

Jadi dari sisi policy tersebut akan mengizinkan container untuk dapat terhubung dengan service yang dibutuhkan, walaupun service tersebut tidak memiliki IP address.

Selain itu, ada juga spesial asset lain yang dinamakan replication controllers, yang mana asset ini akan menunjukkan berapa banyak replikasi untuk pod yang diperlukan untuk dijalankan dalam waktu yang bersamaan.

Dalam arti sederhananya asset ini dapat melakukan otomasi scaling pada aplikasi container yang kita gunakan sesuai dengan permintaan yang dibutuhkan.

Fitur-Fitur Menarik dari OpenShift

Kita lanjut bahas terkait fitur-fitur yang di tawarkan oleh OpenShift ini, dan berikut ini untuk fitur-fitur tersebut:

1. Deployment secara Hybrid Cloud. Yes, seperti yang kita bahas di awal-awal, jika kita menggunakan OpenShift ini akan sangat memungkinkan untuk kita dapat melakukan deployment secara Hybrid Cloud, dalam arti kita dapat membuat aplikasi berbasis container yang kita inginkan di beberapa macam cloud dan dapat menghubungkan cloud tersebut satu sama lain menggunakan OpenShift ini.

2. Terintegrasi dengan berbagai macam teknologi dari Red Hat. Red Hat merupakan perusahaan berbasis software yang sudah sangat berpengalaman di bidangnya, jadi ketika kita menggunakan OpenShift ini, maka Red Hat juga akan memberikan benefit dari sisi pengujian yang intens, serta sertifikasi-sertifikasi untuk software yang berkualitas sesuai dengan standarisasi perusahaan Red Hat.

3. Model development yang berbasis open source. Secara development OpenShift ini secara seluruhnya itu terbuka, dalam arti source code untuk OpenShift tersebut dapat kita lihat di public repositorynya. Hal ini dapat memberikan kolaborasi secara terbuka untuk para developer di seluruh dunia, yang menjadikan perkembangan OpenShift ini dapat lebih cepat dan inovatif.

4. Terdapatnya fitur tambahan pada OpenShift ini, seperti OLM atau Operator Lifecycle Manager yang digunakan untuk menyimpan dan mendistribusi Operators untuk orang yang melakukan development dan deployment untuk aplikasinya. Ada juga container registry dari Red Hat yang dapt terintegrasi dengan OpenShift yaitu Quay.io.

Baca Juga : 3 Langkah Mudah Memulai Adopsi Hybrid Cloud untuk Bisnis Anda

Arsitektur OpenShift

Berikut ini secara gambaran terkait arsitektur yang digunakan oleh OpenShift ini. Dan juga sekedar informasi, karena OpenShift ini menggunakan engine dari Kubernetes, maka per tanggal 27 April 2020.

Red Hat mengubah nama produknya, yang awalnya dinamakan “Red Hat OpenShift Container Engine” menjadi “Red Hat OpenShift Kubernetes Engine”, agar dapat lebih mudah secara komunikasi untuk produk tersebut diinfokan.

multi cluster management redhat openshift

Selain itu, OpenShift ini juga memiliki lifecyclenya, yang dinama dapat digambarkan secara high-level seperti berikut ini:

  1. Membuat sebuah cluster dari OpenShift Container Platform
  2. Melakukan management cluster tersebut
  3. Melakukan development dan deployment aplikasinya
  4. Melakukan scaling terhadap aplikasi tersebut.
4 redhat openshift lifecycle

Penutup

Sampai sini dulu ya untuk artikel terkait tentang OpenShift ini, mudah-mudahan artikel ini dapat menambah wawasan ataupun referensi kamu terkait hal tersebut. Namun jika kamu ingin konsultasi terlebih dahulu perihal OpenShift ini ataupun ingin mencoba trial OpenShift ini juga, kamu bisa isi form dengan klik tombol “Contact Us” di bawah ini yaa.

So, see you on the next article, stay safe and stay healthy.

Konsultasikan lebih lengkap dengan tim kami, klik button dibawah ini.